Jumat, 30 November 2018


K.H Maimun Zubair Dawuh Jika engkau melihat seekor semut terpeleset dan jatuh di air, maka angkat dan tolonglah...barangkali itu menjadi penyebab ampunan bagimu di akherat.

Jika engkau menjumpai batu kecil di jalan yang bisa menggangu jalannya kaum muslimin, maka singkirkanlah, barangkali itu menjadi penyebab dimudahkannya jalanmu menuju syurga.

Jika engkau menjumpai anak ayam terpisah dari induknya, maka ambil dan susulkan ia dengan induknya, semoga itu menjadi penyebab Allah mengumpulkan dirimu dan keluargamu di surga.

Jika engkau melihat orang tua membutuhkan tumpangan, maka antarkanlah ia...barangkali itu mejadi sebab kelapangan rezekimu di dunia.

Jika engkau bukanlah seorang yang mengusai banyak ilmu agama, maka ajarkanlah alif ba' ta' kepada anak2 mu, setidaknya itu menjadi amal jariyah untukmu..yang tak akan terputus pahalanya meski engkau berada di alam kuburmu.

JIKA ENGKAU TIDAK BISA BERBUAT KEBAIKAN SAMA SEKALI, MAKA TAHANLAH TANGAN DAN LISANMU DARI MENYAKITI....SETIDAKNYA ITU MENJADI SEDEKAH UNTUK DIRIMU.

Al-Imam Ibnul Mubarak Rahimahullah berkata:

رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ
“Berapa banyak amalan kecil, akan tetapi menjadi besar karena niat pelakunya. Dan berapa banyak amalan besar, menjadi kecil karena niat pelakunya”

Jangan pernah meremehkan kebaikan, bisa jadi seseorang itu masuk surga bukan karena puasa sunnahnya, bukan karena panjang shalat malamnya tapi bisa jadi karena akhlak baiknya dan sabarnya ia ketika musibah datang melanda

Rasulullah bersabda:
« لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ ».
“Jangan sekali-kali kamu meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun (hanya)bertemu dengan saudaramu dalam keadaan tersenyum".(HR. Muslim)

Mari kita selalu berusaha dg Pikiran dan prilaku positif, semangat meraih hasil terbaik serta saling mendoakan akan keberkahan.. Aamiin...

Untukku untukmu..
Semoga bermanfaat.

Sanad: Nasehat Ulama


Sumber : http://www.moslimoderat.net

Selasa, 27 November 2018

Kerap Terjadi, Lupa Sudah Rakaat Berapa Ketika Shalat, Ini yang Harus Dilakukan!


Ilustrasi orang sholat

Tidak jarang disaat kita melaksanakan sholat, baik dalam keadaan sholat, maupun sudah selesai salam, timbul rasa keraguan dalam hati kita. Keraguan tersebut bisa berupa lupa jumlah raka`at yang telah dikerjakan (tertambah ataupun terkurangi), lupa tasyahhud awal, ragu saat sholat sedang berada di raka`at keberapa dan lain sebagainya.

Dan bila hal ini terjadi pada kita, jangan risau maupun bingung. Memang, keraguan terkadang menimpa orang yang sedang salat. Keraguan yang membuatnya galau, sudah di rakaat berapa ia. Lalu apa yang harus dilakukan jika sedang solat ragu, misalnya telah salat tiga rakaat atau empat rakaat?

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dalam kitaabnya Tuhafatul Ikhwan bi Ajwibatin Muhammatain Tata’allaqu bi arkanil Islam yang diterjemahkan menjadi Tanya Jawab tentang Rukun Islam membahas masalah ini.

Syaikh Bin Baz berkata, yang wajib bagi orang tersebut adalah meyakinkan jumlah yang lebih kecil. Jadi dalam kasus ini, ia meyakinkan bahwa sudah 3 rakaat. Setelah rakat empat ia sujud sahwi (sujud karena lupa) lalu salam. Dalilny adalah sabda Rasulullah SAW.

Jika seseorang dari kalian rau dalam salatnya, lalu ia tidak tahu berapa yang telah ia kerjakan tiga atau empat rakaat, maka hendaklah ia membuang keraguan dan membangun atas apa yang ia yakini, kemudian hendaklah ia sujud dua kali sebelum salam. Jika ternyata ia salat lima rakaat, kedua sujud itu menggenapkan salatnya. Dan jika ia salat sempurna (4 rakaat), maka kedua sujud itu merupakan kemenangannya atas Syetan. 

(Hadis dikeluarkan Muslim dalam shahihnya)
Adapun bila memilih yakin terhadap satu diantara dua kemungkinan tadi dan memilih mana yang ia yakin, maka setelah salam ia sujud sahwi dua kali.

Bagaimana tata cara melakukan sujud sahwi?

Sujud sahwi dilakukan dengan dua kali sujud, didahului dengan membaca takbir seperti ketika kita akan melakukan sujud pada sholat yang biasanya. Sujud sahwi dapat dilakukan sebelum atau setelah salam, jika kita ingat sebelum salam maka hendaknya kita lakukan sebelum salam (setelah membaca tasyahud akhir kemudian melakukan sujud sahwi baru kemudian salam ), jika kita ingatnya setelah salam maka lakukan sujud sahwi setelah salam.
Bacaan Sujud Sahwi
Sebagian ulama menganjurkan do’a ini ketika sujud sahwi,
سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو
Subhana man laa yanaamu wa laa yas-huw” (Maha Suci Dzat yang tidak mungkin tidur dan lupa)
Namun bacaan tersebut hanya anjuran dari beberapa ulama saja tanpa di dukung dalil (karena tidak ditemukan hadist mengenai bacaan sujud sahwi), sehingga yang tepat adalah membaca bacaan sujud seperti dalam sholat biasanya.
سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى
Subhaana robbiyal a’laa” [Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi], atau
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى
Subhaanakallahumma robbanaa wa bi hamdika, allahummagh firliy.” [Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, dengan segala pujian kepada-Mu, ampunilah dosa-dosaku].

Sumber : baca

Jumat, 16 November 2018

Untaian Mutiara Hikmah Majlis Sholawat Al Ihsan untuk Bershalawat Atas Rasulullah SAW



Allah SWT, menyerukan bagi umat manusia untuk selalu bershalawat atas Nabi Muhammad SAW, sebagaimana Firman-Nya ;
“ Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya “ ( QS. Al-Ahzab ; 56 )

Lalu, apa manfaat dari menbaca Shalawat atas Rasulullah SAW? Berikut untaian Mutiara Hikmah yang sangat besar bagi kita melalui percikan-percikan Sabda Rasulullah SAW :

1Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. Bahwasanya ia mendengar Rasulullah SAW bersabda : ”Barangsiapa bershalawat kepadaku sekali, maka Allah memberikan Rahmat kepadanya sepuluh kali”. (HR. Muslim) 

2Dari Ibnu Mas’ud ra. Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : ”Orang yang paling dekat denganku nanti pada hari kiamat, adalah mereka yang paling banyak membaca shalawat untukku” (HR. Turmudzi) 

4Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata: Rasulullah SAW bersabda : ”Sungguh hina orang yang mendengar namaku disebut kemudian ia tidak membacakan shalawat untukku”. (HR. Turmudzi) 

Demikian sepercik dari samudra untaian mutiara hikmah bershalawat atas Nabi Muhammad SAW, semoga bermanfaat yang pada akhirnya dapat meningkatkan Mahabbah kita kepada Rasulullah dan banyak bershalawat kepadanya, sehingga kita senantiasa dapat syafaatnya dihari akhir kelak, serta dapat berkumpul bersama-sama orang yang sangat kita cintai yakni Rasulullah Muhammad SAW. Amin Yaa Rabbal ’Alamin.

Sejarah Singkat Berdirinya Majlis Sholawat AL IHSAN

 Assalamualaikum wr wb
Majlis Sholawat AL IHSAN 
Majlis Sholawat AL IHSAN pada awalnya hanyalah sebuah alat robbana yang tidak dipakai oleh Bapak Ahmad Maulana Selaku Ketua Majlis Miftahus Safaah.

Setelah robbana yang tidak dipakai itulah saya diberikan amanah oleh Ahmad Maulana kalau kamu bisa membentuk majlis maka saya akan memberimu lagi Rolling agar kamu semangat,  waktu yang beliau berikan 1 minggu kalau satu minggu kedepan majlis kamu terbentuk dan pukulan harohnya pas kamu bisa kembali lagi,  saya hanya diberikan waktu 1minggu setelah satu 1 minggu beliau berpesan kamu bisa datang lagi kesini.

Hari2 terlewati kami pun siap mempelajarinya walaupun bunyinya hadroh pada waktu itu didengar orang seperti junggan atau waktawak kataya. Disini lah kami lebih meningkatkan lagi trik dan masuknya suara ke musik, waktu anggota nya terdiri.  Dari 1. Maryadi jojo, Murki, sumadi, jamali, sulaiman, saholik, karim, jatim, san jatim..saya pun mulai mencari cari pukulan hadrih di youtube versi habib syech.

Semakin lama, karena jama’ah yang mengikuti rutinan setiap malam tersebut semakin banyak anggotanya, maka oleh Abd Kholik ditawari untuk latihan dirumahnya agar masuk gak ya musik itu terlihat, yang pada awalnya Bas nya terbuat dari ken dan piring untuk mendukung Hadroh tersebut waktupun semakin hari semakin berjalan 3 hari berselang kami lebih giat lagi dan melanjutkan dikediaman idi setelah itu dilanjutkan dikediaman abdul Kholik.

Setelah waktu sudah sampai 1 minggu kami mulai merekam hasil latihan kamu dan diberikan kepada Ahmada Maulana untuk berikan nilai, dari sinilah akhir musik kami dan latihan kamu pun diterima Alhamdulilah Rolling yang di cita2kan diberikan juga pada saya, setelah Rolling itu diberikan kami pun melanjutkan latihan setiap malam tampa henti, cacianpun kami sudah biasa oleh masyarakat yang mendengarkan majlis kami yang saat iti tidak kasih nama.

Berjalannya waktu 1 bulan berselang kami pun mendapatkan tawaran oleh bapak Sappa untuk tampil pertama di acara Pegantin untuk menyambut mempelai laki2 dan kami pun melantun sholawat yang masih banyak kekurangya tersebut.  Disini saya dapat amanah dari Alm. Ust Abdul Jalal NHs selaku tokoh agama dan guru kita yang ada di desa pasak agar trus beelatih dan melanjutkan majlis itu pesan beliau saya yakin majlis ini akan besar nanti saya ingin kalau ada haflatul imtihan saya akan mengundang majlis kalian pesan beliau di minggu tangal 23 bulan 11 tahun 2016 silam.

Dari sinilah kami mulai memikirkan bagaimana cara majlis ini bisa punya Bass sendiri dan tidak minjam akhirnya Sumadi dan idi menemukan kayu yang berlubang ditengah hutan dan dibawa pulang serta kayu terbut dibuat bagaimana cara bisa menjadi bass, 1 minggu berselang bass twrbut dibawah kerumah saya dan diserahkan ke Aba saya H. Sidik untuk dibuat semirip mungkin bass terbut agar bentuknya sama 2 minggu proses pembuatannya pun alhirnya bass itu jadi juga dan syujud sukurpun kami semua tidak di lupakan.

Setelah alat Hadroh pun masih kekurangan kami ini siatip iuran uang 50ribuan 1 anggota majlis dan kebetulan punya Ahmad mau dijual 1 juta uang pada waktu hanya terkumpul 7 ratus akhir kami memberanikan diri untuk mengharap kasian dan agar haroh ya dibawa walaupun sisa uangnya belum dilunasi.

Disinilah puncak keseriusan kami semua majlis mulai sempurna dan tidak beberapa 1 berjalan saya membuat syukuran di surau Al Ihsan..  Disini lah awal mula Nama Majlis Sholawat AL IHSAN muncul sesuai dengan awal hadroh ini pertama kali di surau Al Ihsan Maka kami semua sepakat memberikan nama Majlis Sholawat AL IHSAN. agar surau itu slalu melekat bersama Al Ihsan Serta doa keselamatan buat majlis Sholawat Al Ihsan pun dilakuk

Alhamdulillah niatan ini mendapat sambutan dengan baik dari masyarakat dan
Remaja sehingga menjelang 2 minggu diresmikannya majlis sholawat Al Ihsan pun tampil untuk yang kedua kalinya dikediaman bapak Marhawi pernikahan Putrinya Yang bernama Rida. Tidak tangung2 acara tersebut malam dihadiri majlis Asy Robuthour pimpinan Habib Thoha.

Kemudian kami mulai melakukan ekspansi ke acara peganti 1 berselang kami tampil lagi di kediaman sumadi anggota majlis sholawat al ihsan pernikahan anaknya dan juga berselang dari tampil diacara Haflatul imtihan Sirajul Ulum yang dihari oleh habib fahmi inilah merupakan kebanggaan bagi kami ssmua.

Kami konsisten dan selalu menjaga amaliyah-amaliyah Ahlussunah waljama’ah seperti Sholawat, Rotib, Yasinan, Tahlilan, manaqib, dan lain-lain. Dan karena kami sering mensyi’arkan Sholawat,


Sehingga Majlis Sholawat AL IHSAN ini terinspirasi dari sosok besar dari HABIB SYEKH ABDUL QODIR ASSEGAF dengan  majelis Ahbabul Musthofanya, Maka tidak salah apabila majlis  Sholawat AL IHSAN ini adalah anak  kandung dari Majelis AHBABUL MUSTHOFA.

Sholawat Ciri khas Al Ihsan  Syiiran Al Ihsan, Turi Putih, Hazal Quran, dan masih banyak lagi mengikuti perkembangan Habib syech dan sebagiannya sekarang Majlis Sholawat AL IHSAN  sudah dikenal dimana2 Alhamdulilah sering tampil acara resmi misalnya Acara GP Ansor dan Pengajian Akbar Alm Ust Abdul Jalal NHs bersma habib Nizar. 2018 kemaren.

untuk itu kami mohon dukungan dari para Jama’ah, pecinta Rosululloh, Majlis Sholawat AL IHSAN semua untuk saling bahu membahu dan bekerjasama demi terwujudnya cita-cita tersebut.

Semoga cita-cita kita semua diridhoi Alloh SWT, dan kelak kita mendapat syafaat Rosullulloh SAW. Aamiin.

Wassalamualaikum wr.wb
Pimpinan Majlis Sholawat AL IHSAN ( Maryadi Jojo, S. Pd.)
Fb.  Majlis Sholawat Al Ihsan

ditulis Oleh :Maryadi Jojo

Kamis, 15 November 2018

Allah, Malaikat, dan Nabi Bershalawat kepada Pembaca Shalawat


Ada banyak keistimewaan dan fadhilah dalam membaca shalawat kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Menurut Syekh Abdullah Sirajudin Al-Husaini di dalam kitab As-Shalâtu ‘alan Nabiyyi Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam ada banyak keutamaan dan keistimewaan membaca shalawat di mana pena tak akan mampu menuliskannya dan buku tak akan bisa mengungkapkannya.
Berkaitan dengan topik bahasan tulisan ini ada 3 (tiga) keutamaan shalawat yang disebut oleh Al-Husaini yang menunjukkan bahwa orang yang bershalawat kepada Nabi pada hakikatnya ia bershalawat untuk dirinya sendiri. Ketiga keutamaan dan keistimewaan itu adalah:
Pertama, orang yang bershalawat sekali kepada Nabi akan dishalawati oleh Allah sepuluh kali.
Dalam sebuah hadits riwayat Imam An-Nasai Rasulullah bersabda:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ
Artinya: “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.” 
Kedua, orang yang betshalawat kepada Nabi akan dishalawati oleh beliau. Rasulullah akan membalas shalawatnya orang yang bershalawat kepadanya.
Sahabat Anas meriwayatkan sebuah hadits di mana Rasulullah bersabda:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ بَلَغَتْنِي صَلَاتُهُ وَصَلَّيْتُ عَلَيْهِ وَكُتِبَ لَهُ سِوَى ذَلِكَ عَشْرُ حَسَنَاتٍ
Artinya: “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku maka shalawatnya sampai kepadaku dan aku bershalawat kepadanya dan ditulis baginya selain itu sepuluh kebaikan.” (HR. Thabrani)
Ketiga, orang yang bershalawat kepada Nabi akan dishalawati oleh para malaikat.
Dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad dituturkan bahwa Abdullah bin Amr pernah berkata:
مَنْ صَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاحِدَةً صَلَّى الله عَلَيْهِ وَمَلَائِكَتُهُ سَبْعِينَ صَلَاةً
Artinya: “Barangsiapa yang bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam sekali maka Allah dan para malaikatnya bershalawat kepadanya tujuh puluh kali.” (Abdullah Sirajudin Al-Husaini, As-Shalâtu ‘alan Nabiyyi Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, [Damaskus: Maktabah Darul Falah, 1990], hal. 97-98)
Dari ketiga keutamaan shalawat di atas menujukkan bahwa orang yang membaca shalawat maka ia akan dishalawati oleh Allah, Rasulullah dan para malaikat. Shalawat yang dibacanya untuk Rasulullah akan berbalas shalawat untuk dirinya.
Lebih dari itu satu shalawat yang ia baca untuk Rasulullah bahkan berbalas sepuluh sampai tujuh puluh shalawat untuk dirinya sendiri.
Bila shalawat bermakna rahmat maka orang yang membaca shalawat pada hakekatnya sedang memohon rahmat Allah untuk dirinya sendiri jauh lebih banyak dari rahmat yang ia mohonkan untuk Rasulullah.
Semakin banyak ia bershalawat maka akan semakin banyak dan berlimpah pula rahmat Allah yang dianugerahkan kepadanya. Bisa dibayangkan, betapa dalam keadaan yang sangat baik orang yang membiasakan diri memperbanyak shalawat kepada Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam.
Bila demikian adanya maka perintah Allah kepada orang-orang mukmin untuk bershalawat kepada Nabi sesungguhnya bukan saja untuk mewajibkan mereka memenuhi hak-hak Rasulullah dengan bershalawat namun juga sebagai sarana bagi mereka untuk mendapatkan limpahan kebaikan dan keberkahan, juga dengan shalawat.
Adalah sebuah keistimewaan luar biasa ketika seorang hamba dishalawati oleh para malaikat, Rasulullah dan lebih-lebih oleh Allah. Ketika seorang hamba mendapatkan shalawat dari Allah maka ia telah mendapatkan keistimewaan yang luar biasa yang patut disyukuri. Mengapa demikian?
Sebuah ilustrasi sederhana. Pernahkah Anda mendapat hadiah dari seorang kekasih yang Anda cinta? Pernahkah Anda mendapat hadiah dari seorang pejabat penting, seorang yang tinggi kedudukan dan sangat dihormati oleh masyarakat karena kebaikannya? Bagaimana perasaan Anda ketika mendapatkan hadiah dari orang-orang seperti itu? Tidakkah Anda merasa tersanjung dan bangga mendapatkannya?
Bisa jadi mendapatkan hadiah adalah hal yang biasa dan lumrah bagi setiap orang yang menerimanya. Tapi mendapatkan hadiah dari orang-orang istimewa adalah satu keistimewaan tersendiri. Bukan karena rupa hadiahnya yang membuat si penerima tersanjung dan bangga, tapi siapa pemberinya yang membuat hadiah itu menjadi lebih istimewa.
Alhasil, bila menerima hadiah dari orang-orang istimewa adalah sebuah keistimewaan, lalu bagaimana bila pemberi hadiah itu adalah Allah Tuhan semesta yang maha segalanya? Bagaimana pula istimewanya bila seorang menerima hadiah shalawat dari para malaikat, makhluk Allah yang hanya melakukan ketaatan saja? Juga, bagaimana senang dan bahagianya orang yang dishalawati oleh Rasulullah, mengingat bershalawatnya beliau kepada orang yang membaca shalawat menunjukkan bahwa beliau mengenali orang tersebut. Tidakkah bangga bila dikenali oleh Rasulullah?
Maka tidaklah heran mereka yang benar-benar memahami hal ini selalu membiasakan diri membaca beribu shalawat kepada Nabi di siang dan malam hari. Bagaimana dengan Anda, sudahkah banyak bershalawat hari ini? Allâhumma shalli wa sallim ‘alâ sayyidinâ Muhammad.
Wallâhu a’lam.

(Yazid Muttaqin)
Sumber : NU Online

Doa Jumat Pagi Anjuran Rasulullah SAW


Animasi :vocal Majlis sholawat al Ihsan 

Jumat menjadi hari istimewa. Dalam kamus Islam, Jumat mendapat julukan sayyidul ayyam (rajanya hari). 

Ia mendapat kekhususan posisi sehingga amalan ibadah dinilai lebih utama saat dilaksanakan pada hari Jumat. Rasulullah pun memiliki amalan khusus tentang hal ini. Di antaranya:
أسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذي لَا إِلهَ إِلاَّ هُوَ الحَيَّ القَيُّوْمَ وأَتُوْبُ إلَيْهِ 

Astaghfirullâh alladzî lâ ilâha illâ huwa-l-hayyal qayyûma wa atûbu ilaihi
Artinya, 
“Aku memohon ampun kepada Allah yang tiada Tuhan selain Dia Yang hidup kekal serta terus menerus mengurus (makhluk); dan aku bertobat kepada-Nya.”

Dalam salah satu riwayat dari Anas, Rasulullah bersabda bahwa barangsiapa yang pada Jumat pagi sebelum sembahyang subuh membaca bacaan tersebut sebanyak tiga kali, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih samudra. (Lihat Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Adzkâr, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Mesir)

(Mahbib)
Sumber : NU Online

Mengapa “Fabiayyi ‘Aalaa’i Rabbikumaa Tukadzdzibaan” Diulang Sampai 31 Kali? Dan Untuk Siapa Makna Didalamnya


Dalam Surat Ar Rahman, kalimat “Fabiayyi ‘aalaa’i Rabbikumaa Tukadzdzibaan” (فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ) diulang sampai 31 kali. Kepada siapa kalimat tersebut ditujukan dan mengapa diulang sampai 31 kali?

فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan"

Kalimat ini diulang dalam ayat 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, dan 77 surat Ar Rahman.

Kalimat ini ditujukan kepada manusia dan jin sehingga menggunakan kata Rabbikuma (رَبِّكُمَا) yang artinya “Tuhan kamu berdua”.

Dilansir dari tarbiyah.net berbeda dengan banyak surat lainnya, Surat Ar Rahman menyertakan jin sebagai obyek firman Allah. Jin dan manusia diingatkan bahwa banyak sekali nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dilimpahkan kepada mereka.

Dengan banyaknya nikmat-nikmat yang disebutkan dalam surat Ar Rahman, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengiringinya dengan kalimat “Fabiayyi ‘aalaa’i Rabbikumaa Tukadzdzibaan”.

“Setiap menjelaskan berbagai nikmat, selalu diiringi dengan Fabiayyi ‘aalaa’i Rabbikumaa Tukadzdzibaan,” tulis Syaikh Amru Khalid dalam Khowatir Qur’aniyah.

Baca Juga : Hafizh Cilik Ini Menangis Saat Sambung Ayat, Bukan Karena Tidak Hafal, Namun Maknanya Membuat Kita Ikut Menangis

Lalu mengapa diulang hingga 31 kali? Tentu pengulangan ini adalah hak prerogatif Allah dan hanya Dia-lah yang benar-benar mengetahui hakikat di baliknya. Namun di antara hikmah yang bisa dipetik, selain mengingatkan agar jin dan manusia menyadari bahwa seluruh nikmat itu datangnya dari Allah, pengulangan itu juga menunjukkan betapa pentingnya syukur atas nikmat-nikmat tersebut.

“Kalimat ini (Fabiayyi ‘aalaa’i Rabbikumaa Tukadzdzibaan) memerintahkan jin dan manusia untuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah dan tidak mendustakannya,” terang Syaikh Amru Khalid.

Sedangkan Imam As Suyuthi dalam Al-Itqan fi Ulumil Qur`an menjelaskan bahwa pengulangan kalimat Fabiayyi ‘aalaa’i Rabbikumaa Tukadzdzibaan itu untuk memantapkan pemahaman dan menekankan betapa pentingnya bersyukur atas nikmat-nikmat itu setelah menyadarinya bahwa ia datang dari Allah Azza wa Jalla.

Sumber : wajibbaca

"Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga."

"Barangsiapa takut kepada Allah SWT nescaya tidak akan dapat dilihat kemarahannya. Dan barangsiapa takut pada Allah, tidak sia...